FTBI 2025, Pelajar Kotabaru Bangkitkan Semangat Bahasa Banjar Lewat Kreativitas

KOTABARU, GK – Ratusan pelajar dari berbagai sekolah dasar dan menengah pertama di Kabupaten Kotabaru menunjukkan antusiasme luar biasa dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, sebuah perhelatan budaya yang digelar selama dua hari di Aula H. Ansyari Suryadi, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kotabaru.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kotabaru, Taufikurrahman, dan menjadi puncak dari Program Revitalisasi Bahasa dan Sastra Daerah (RSD) yang bertujuan memperkuat eksistensi Bahasa Banjar sebagai bahasa ibu di tengah tantangan era modern.

Melalui sambutan yang disampaikan oleh Kabid Pembinaan Kebudayaan, H. Eddy Cahyono, pemerintah daerah menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga warisan budaya.
“Kami berharap seni dan tradisi lokal tetap tumbuh di tangan anak-anak kita. Bahasa Banjar bukan hanya alat komunikasi, tapi juga identitas yang harus dirawat,” kata Eddy dalam wawancaranya, Sabtu (18/10/25)

Festival ini menghadirkan lima jenis kompetisi yang seluruhnya menggunakan Bahasa Banjar sebagai media utama, diantarnya:

“Penulisan Puisi, Cerita Pendek, Pidato
Cerita Lisan, Komedi Tunggal (bapandung),” ungkapnya

Ia juga mengungkapkan ada sebanyak 231 orang terlibat aktif dalam kegiatan ini, terdiri dari 152 peserta lomba, 65 guru pendamping, 14 panitia, juri, dan pengisi hiburan

Penjurian dilakukan oleh tokoh-tokoh seni dari Dewan Kesenian Daerah Kotabaru, dengan dukungan penuh dari para guru seni budaya dan seniman lokal. Penilaian dilakukan secara objektif untuk menjamin kualitas dan keaslian karya peserta.

Selain itu, para pemenang dari masing-masing kategori akan menerima trofi, piagam penghargaan, dan dana pembinaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pelestarian bahasa daerah.

Seluruh kegiatan FTBI 2025 ini dibiayai melalui Anggaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotabaru, khususnya dari Bidang Pembinaan Kebudayaan.

Festival Tunas Bahasa Ibu bukan sekadar ajang lomba, melainkan ruang inspiratif bagi generasi muda untuk menyalakan kembali semangat berbahasa Banjar sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *