
KOTABARU, GK – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMA Negeri 1 Kotabaru, Kecamatan Pulau Laut Sigam, berlangsung tertib dan lancar berkat persiapan matang dan koordinasi intensif. Kepala Sekolah Nasri menyampaikan bahwa seluruh rangkaian ujian berjalan sesuai harapan, tanpa kendala berarti.
“Alhamdulillah, anak-anak datang tepat waktu, bahkan sudah siap setengah jam sebelum ujian dimulai. Infrastruktur dan simulasi telah kami siapkan jauh-jauh hari,” ucap Nasri saat dikonfirmasi awak media diruang kerjanya SMA Negeri 1 Kotabaru, Kamis (6/11/25).
Untuk memastikan kelancaran ujian TKA ini, pihak sekolah melakukan pertemuan dengan siswa dan orang tuanya tiga hari sebelumnya guna menyampaikan teknis pelaksanaan dan membangun kesiapan mental. Koordinasi dengan wali kelas juga dilakukan secara aktif, termasuk antisipasi jika ada siswa yang terlambat atau mengalami kendala.
Meski sempat terjadi pemadaman listrik pada sore hari, tim teknis tetap sigap. Sistem ujian yang telah disiapkan memungkinkan pelaksanaan tetap berjalan lancar. Laporan langsung pun dikirim ke posko TKA provinsi, dan sekolah siap mengikuti arahan lanjutan.

“Kami sudah siapkan skenario cadangan. Bahkan sempat berkoordinasi dengan sekolah lain untuk antisipasi sesi terakhir,” jelasnya.
Selain itu, Nasri juga menjelaskan bahwa ujian TKA dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama mencakup mata pelajaran wajib seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Gelombang kedua berisi mata pelajaran pilihan sesuai jurusan siswa. Karena keterbatasan kapasitas server dan jaringan, sekolah memilih menjalankan satu sesi per gelombang agar stabilitas internet tetap terjaga.
Nasri berharap seluruh siswa dapat meraih hasil terbaik dan melanjutkan pendidikan ke kampus unggulan atau instansi sesuai cita-cita mereka.
“Nilai bukan segalanya, tapi kami ingin mereka punya peluang. Kami sudah berikan pendampingan maksimal,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan momen paling menyentuh selama memimpin sekolah: ketika siswa menangis karena gagal juara, atau datang hanya untuk mengucapkan terima kasih karena merasa diperhatikan.
“Kami bukan hanya guru, tapi keluarga. Ketika mereka bahagia, kami pun ikut bahagia. Kadang saya menangis saat orang tua berkata, ‘Terima kasih, Pak. Anak saya banyak berubah,” ucapnya haru.
Menutup wawancara, Nasri menyampaikan pesan mendalam: agar guru terus mendidik dengan hati, dan siswa menjaga niat baik dalam belajar.
“Kami semua punya anak, punya cucu. Mari perlakukan siswa seperti keluarga sendiri. Sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi tempat tumbuh dan menemukan arah hidup,” tutupnya penuh makna.
Di bawah kepemimpinan yang penuh empati dan ketulusan, SMA Negeri 1 Kotabaru membuktikan bahwa pendidikan sejati adalah tentang membentuk karakter, membuka jalan, dan menyentuh hati.
Yandi












