Hotspot Terdeteksi di Stockpile Batu Bara Satui Barat, KPH Kusan Tanah Bumbu Ingatkan Bahaya Karhutla

BATULICIN – Titik panas (Hotspot) yang terpantau melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementrian Kehutanan ditemukan di wilayah Satui Barat, Kabupaten Tanah Bumbu. Titik panas tersebut terpantau berada di area stockpile batu bara yang materialnya masih muda dan relatif mudah terbakar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kesatuan Pengelolaan Hutan KPH) Kusan Tanah Bumbu ditengah musim kemarau panjang yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober 2026.

Kepala KPH Tanah Bumbu, A Raihanor melalui Kasi Perlindungan Hutan, Dawan, mengatakan pihaknya terus melakukan patroli rutin sekaligus memantau titik-titik hotspot yang terdeteksi melalui Sipongi.

“Kami ada menemukan lokasi-lokasi pasca karhutla dan kami juga melakukan pemantau titik hotspot yang terpantau melalui Sipongi milik Kementerian Kehutanan. Titik hotspot itu berada diluar kawasan hutan, seperti di Serdangan dan Satui Barat,” ujar Dawan saat ditemui wartawan di Kantor KPH Kusan, kawasan Kapet, Kecamatan Simpang Empat, Jumat (7/8/2026).

Menurut Dawan, setelah dilakukan pengecekan, titik panas di Serdangan berdasarkan konfirmasi dengan aparat desa berada di areal yang digunakan untuk pencetakan sawah.

Sedangkan di Satui Barat, titik hotspot berada di area stockpile batu bara. Dawan menjelaskan, material batu bara yang masih muda di lokasi tersebut relatif mudah terbakar sehingga panasnya dapat terdeteksi oleh satelit dan masuk pemantau Sipongi.

Meski berada diluar kawasan hutan, keberadaan titik panas tersebut tetap menjadi perhatian KPH Kusan karena berpotensi menimbulkan kebakaran dan asap yang dapat berdampak terhadap masyarakat.

Dawan juga menghimbau kepada seluruh masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan agar bersama-sama mencegah terjadi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

KPH saat ini meningkatkan patroli disejumlah titik rawan, termasuk melakukan sosialisasi serta memasang spanduk larangan membakar hutan dan lahan.

“Dengan adanya titik hotspot titik Sipongi, kami mengajak kepada seluruh stakeholder agar bersama-sama melakukan himbauan kepada masyarakat sekitar untuk tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat berdampak menimbulkan asap hingga menimbulkan dampak, baik secara lokal maupun nasional,” pungkas Dawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *