Kisah Arsyad, Ayah Tangguh di Balik Senyum Putrinya

Putri Arsyad saat pulang sekolah langsung menghampiri dan melihatkan hasil pelajarannya.

TANAH BUMBU – Kebahagiaan seorang ayah terkadang hadir dari hal yang begitu sederhana. Bagi Arsyad (47), melihat putrinya pulang sekolah dengan wajah ceria dan membawa kabar mendapat nilai sempurna sudah cukup membuat hatinya bangga.

Hari itu, Rafania Syazfa (8), siswi kelas 2 SDN Kampung Baru 10 di Desa Sejahtera, pulang membawa kabar menggembirakan. Ia langsung menunjukkan kepada ayahnya hasil belajar Bahasa Indonesia yang mendapat nilai 100.

Rafania membuka buku pelajarannya dan memperlihatkan hasil tersebut kepada sang ayah. Arsyad pun tersenyum bangga melihat putrinya.

Dengan penuh kasih, ia memuji Rafania dan menyimpan harapan besar untuk masa depan anaknya.

“Semoga anak bapak pinter dan kelak bisa menjadi orang hebat,” ujar Arsyad sambil melihat putrinya menunjukkan hasil belajarnya di sekolah.

Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan harapan seorang ayah yang ingin melihat kehidupan putrinya jauh lebih baik.

Arsyad kini hanya tinggal berdua bersama Rafania setelah Ia dan istrinya bercerai. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Arsyad bekerja sebagai buruh harian lepas dan melakukan berbagai pekerjaan serabutan.

Pekerjaan apa saja ia jalani selama bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan, terkadang setelah pulang sekolah, Rafania ikut dibawa Arsyad ke tempatnya bekerja.

Keterbatasan ekonomi tidak membuat Arsyad berhenti memikirkan pendidikan putrinya.

Ia bercerita kepada Lurah Tungkaran Pangeran, Akhmad Syarif, bersama Ketua RT 18 M. Yahya Assegaf dan Ketua RT 20 saat mereka mendatangi rumahnya, Rabu (9/9/2026), bahwa dirinya ingin menyekolahkan Rafania setinggi mungkin.

Gang saat melalui menuju rumah Arsyad. Jalan ini berlobang dan kayu yang dilewati menghawatirkan.

Ia bahkan berencana menyekolahkan putrinya di sekolah rakyat.

Namun, untuk saat ini Arsyad masih menghadapi satu persoalan. Rafania belum bisa berpisah dengan ayahnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Arsyad tetap berusaha menjadi tempat Rafania bersandar. Ia membesarkan putrinya dengan kemampuan yang dimilikinya, sembari berharap suatu hari anaknya dapat meraih kehidupan yang lebih baik.

Rumah mereka berada di sebuah gang kecil di jalan tembus wilayah Tungkaran Pangeran, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu.

Rumah bekas orang tua Arsyad itu berada di bagian belakang dengan kondisi sangat sederhana. Sebagian dindingnya bahkan masih menggunakan kayu.

Dari rumah sederhana tersebut, Rafania setiap hari harus melewati sebuah titian kayu saat berangkat dan pulang sekolah.
Titian itu memiliki lebar sekitar satu meter dengan panjang kurang lebih 40 meter.

Kondisinya kini cukup memprihatinkan. Sejumlah bagian kayu terlihat berlubang dan dikhawatirkan membahayakan yang melintas.

Kondisi itulah yang membuat Lurah Tungkaran Pangeran, Akhmad Syarif, bersama ketua RT setempat datang melihat langsung keadaan Arsyad dan akses jalan yang setiap hari dilalui Rafania.

Akhmad mengatakan, pihaknya sengaja melihat kondisi titian sekaligus menemui Arsyad yang tercatat sebagai warga kurang mampu.

“Kita ke sini bersama RT untuk melihat kondisi jalan tembus yang sudah berlubang..Jalan ini selalu dilalui anak Bapak Arsyad. Rencananya akan kita usulkan agar jalan ini diperbaiki sehingga layak dilalui,” jelas Akhmad Syarif.

Menurutnya, akses tersebut perlu mendapat perhatian agar warga, khususnya anak-anak, dapat melintas dengan lebih aman.

Sementara itu, Ketua RT 18 Tungkaran Pangeran, M. Yahya Assegaf, mengatakan kondisi titian dengan lebar sekitar satu meter tersebut cukup memprihatinkan.

Ia juga menyebut Arsyad kini tinggal berdua bersama putrinya di rumah bekas orang tuanya yang berada di bagian belakang.

” Semoga jalan tembus ini bisa diperbaiki secepatnya. Akan kita usulkan karena beliau juga tercatat sebagai warga tidak mampu,” tutup M. Yahya Assegaf.

Bagi Arsyad, mungkin hidup belum memberikan banyak pilihan. Namun sebagai seorang ayah, ia tetap menyimpan satu harapan sederhana, melihat putrinya tumbuh pintar, berpendidikan, dan kelak menjadi orang hebat.[jon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *