KOTABARU, GK – Kepala Lapas Kelas IIA Kotabaru, Doni Hardiansyah, menegaskan komitmen lembaganya dalam menghadirkan pembinaan yang berdampak nyata bagi warga binaan. Dalam wawancara Sabtu (8/11/25), ia mengungkapkan bahwa program rehabilitasi, inovasi layanan, hingga pemberdayaan ekonomi menjadi fokus utama selama masa kepemimpinannya.
Bulan lalu, Lapas Kotabaru telah menyelesaikan program rehabilitasi pemasyarakatan bagi 100 warga binaan kasus narkoba. Saat ini, gelombang kedua tengah berlangsung dengan jumlah peserta 150 orang, melalui seleksi ketat berbasis asesmen.
Selain itu, Lapas juga meluncurkan inovasi ICE WIN (Integrasi Cepat Warga Binaan), sebuah sistem jemput bola untuk mempercepat proses pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, dan hak integrasi lainnya. Program ini terbukti efektif menekan angka overkapasitas, dari semula 580 warga binaan menjadi 499 orang.

Dalam bidang kemandirian, Lapas Kotabaru mengembangkan kain sasirangan sebagai produk unggulan. Hasil karya warga binaan ini telah dipesan oleh sejumlah instansi, termasuk PT Guthrie International Pulau Laut Refinery,dan PT Arutmin, yang rutin memesan seragam kerja.
Tak hanya itu, Lapas juga mengembangkan budidaya ikan lele bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Panen perdana mencapai 100 kilogram, dan program ini terus berlanjut sebagai bagian dari pembinaan ketahanan pangan.
Untuk menjaga stabilitas dan mencegah gangguan keamanan, Lapas mengisi keseharian warga binaan dengan kegiatan padat dan bermanfaat. Program literasi dijalankan bersama perpustakaan keliling, sementara pembinaan keagamaan rutin dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Agama. Hiburan dan kegiatan seni juga digelar untuk menjaga suasana kondusif.
“Kunci keamanan adalah pembinaan yang maksimal. Dengan kegiatan padat, warga binaan tidak punya ruang untuk berpikir negatif,” tegas Doni.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian, dan dunia usaha menjadi pilar penting. PT Bultri tidak hanya memesan kain sasirangan, tetapi juga menyalurkan produk UMKM warga binaan seperti amplang dan keripik. PT Arutmin memberikan pelatihan menjahit sekaligus memesan seragam lapangan hasil produksi warga binaan. Bahkan, produk Lapas kini juga dipasarkan melalui toko oleh-oleh K7.
Doni menegaskan bahwa keterbatasan tidak pernah menyurutkan semangat untuk berinovasi. Ia berharap ke depan Lapas Kotabaru mendapat dukungan lahan baru dari pemerintah daerah untuk relokasi, sehingga pembinaan dapat berjalan lebih optimal.
“Dengan sinergi luar biasa antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, semua menjadi lebih mudah. Harapan kami, Lapas Kotabaru terus menjadi tempat pembinaan yang membawa perubahan positif bagi warga binaan,” tutupnya.
Dengan program rehabilitasi, inovasi layanan, dan dukungan lintas sektor, Lapas Kotabaru membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan jalan menuju perubahan dan masa depan yang lebih baik.
Yandi












