JAKARTA, GK – Kementrian Pertanian (Kementan) menyatakan produksi daging ayam ras dan telur ayam ras nasional pada 2026 diproyeksikan melebihi kebutuhan dalam negeri. Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalankan berbagai program peningkatan konsumsi protein hewani tanpa mengganggu pasokan masyarakat.
Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan produksi daging ayam ras pada 2026 diperkirakan mencapai 4,90 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 4,02 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus sekitar 876 ribu ton.
Sementara itu, produksi telur ayam ras diproyeksikan mencapai 6,99 juta ton dengan kebutuhan sekitar 6,47 juta ton atau surplus sekitar 517 ribu ton.
“Produksi daging ayam dan telur ayam ras nasional berada dalam kondisi yang mencukupi kebutuhan masyarakat. Kapasitas produksi yang ada juga memberikan ruang untuk mendukung berbagai program pemerintah yang bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi,” kata Agung saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di Denpasar, Bali, Jumat (10/7/2026).
Menurut Agung, proyeksi tersebut menunjukan sektor perunggasan nasional memiliki kapasitas yang cukup untuk menjaga ketersedian pangan asal unggas sekaligus mendukung kebijakan dengan meningkatkan konsumsi protein hewani.
Meski demikian, Kementan tetap menekankan pentingnya pengelolaan produksi agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap terjaga sehingga harga tetap stabil dan usaha peternak berkelanjutan.
“Kementan pada prinsipnya siap mendukung setiap kebijakan pemerintah yang dapat meningkatkan konsumsi protein hewani ini masyarakat. Dari sisi produksi, sektor perunggasan memiliki kapasitas yang memadai,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan produksi dalam negeri melalui berbagai program pemerintah tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi, tetapi juga memperkuat penyerapan produksi hasil peternak.
“Yang kami bangun bukan hanya peningkatan produksi, tetapi tetapi ekosistem peternakan yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Dengan pondasi tersebut, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, daya saing subsektor perunggasan semakin kuat, dan kesejahteraan peternak terus meningkat,”kata Agung.












