KOTABARU, GK — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPPAPPKB) Kabupaten Kotabaru menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berdaya bagi perempuan dan anak. Melalui kolaborasi lintas sektor dan program-program strategis, dinas ini terus memperkuat fondasi perlindungan sosial di daerah.
Dalam wawancara pada Senin (12/1/2026), Kepala Dinas PPPAPPKB, Ir. Sri Sulistyani, menekankan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci utama dalam membangun ketahanan keluarga. “Kami fasilitasi organisasi-organisasi perempuan karena mereka adalah motor penggerak perubahan di tingkat akar rumput,” ujarnya.
Salah satu program prioritas tahun ini adalah fasilitasi legalitas pernikahan di Kecamatan Sampanahan. Banyak pasangan belum memiliki dokumen resmi pernikahan, yang berdampak pada perlindungan hukum keluarga.
“Kami tengah memverifikasi data dan akan menggelar nikah massal dalam waktu dekat,” jelas Sri.
Dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, PPPAPPPKB juga menjalin kerjasama erat dengan kepolisian, kejaksaan, pengadilan negeri, dan pengadilan agama.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan kasus sensitif seperti kekerasan seksual dan pernikahan dini membutuhkan sinergi yang solid,” tegasnya.
Disisi lain, Sri juga menyoroti peran strategis generasi muda. Duta Genre dan Forum Anak Daerah Kotabaru telah menorehkan prestasi di tingkat provinsi dan menjadi agen perubahan di kalangan remaja.
“Mereka bukan hanya pelapor, tapi juga pelopor. Kami bangga atas kontribusi mereka,” ucapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa media sosial bisa menjadi ruang rawan jika anak tidak mendapat perhatian cukup dari keluarga. “Banyak anak merasa lebih nyaman di luar rumah karena kurangnya perhatian. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan ruang yang aman dan suportif,” tambahnya.
Di tahun 2026, Dinas PPPAPPKB menetapkan dua prioritas utama: pemberdayaan ekonomi perempuan dan percepatan penurunan stunting.
“Kami ingin perempuan lebih berdaya, tidak hanya di sektor ekonomi, tapi juga sosial, budaya, dan politik. Kami juga terus mendorong kesetaraan gender di semua lini,” jelas Sri.
Ia menambahkan bahwa penanganan stunting masih menjadi pekerjaan besar, terutama di wilayah-wilayah dengan angka prevalensi tinggi.
“Kami akan terus memperkuat peran kader dan tenaga lapangan di 22 kecamatan untuk menjangkau seluruh siklus kehidupan, dari anak-anak hingga lansia,” katanya.
Menutup perbincangan, Sri Sulistyani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif mendukung program-program pemerintah.
“Peran keluarga sangat penting. Jika anak merasa aman dan diperhatikan di rumah, mereka tidak akan mencari pelarian di luar. Kami berharap masyarakat menyambut program kami dengan antusias, karena keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi bersama,” pungkasnya.
Untuk generasi muda, ia berpesan agar lebih peduli terhadap diri sendiri dan masa depan. “Jadilah generasi yang sadar hukum, berdaya, dan siap memimpin masa depan,” tutupnya penuh harap.
Yandi












