BATULICIN,GK – Di tengah selat yang memisahkan daratan Pulau Kalimantan dan Pulau Laut, tersembunyi sebuah pulau kecil bernama Pulau Sawangi. Pulau ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Kota Batulicin, Kalimantan Selatan. Namun, untuk mencapainya, kita tetap harus menggunakan perahu atau speedboat.
Pulau Sawangi bukan sekadar hamparan tanah di tengah laut. Di sini, ada sebuah legenda yang hidup dalam cerita turun-temurun masyarakat setempat. Batu Dinding, sebuah formasi tebing alami yang menjulang di puncak pulau, menjadi saksi bisu sejarah dan mitos yang masih dipercayai hingga kini.
Syarwani, Ketua Adat Pulau Sawangi, bercerita bahwa pulau ini dahulu hanyalah sebuah karang atau gusung (gundukan pasir yang muncul di laut). Legenda yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa suatu ketika, seekor ular sawa besar yang berasal dari Sungai Batulicin melintasi perairan ini. Ular tersebut terdampar di gusung ini dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Sejak saat itu, tempat ini disebut “Sawangi,” yang berarti “si wangi.”
“Ular sawa itu wangi, terdampar di gusung ini. Sejak itulah orang-orang menyebutnya Pulau Sawangi,” tutur Syarwani kepada Channel Mama Mia, dalam perjalanan menuju Batu Dinding melalui hutan pulau tersebut.

Bagi masyarakat setempat, Batu Dinding bukan sekadar tebing batu biasa. Menurut cerita orang tua terdahulu, Batu Dinding adalah ibarat “kabupaten” bagi makhluk gaib yang mendiami Pulau Sawangi. Mitos ini membuat tempat tersebut terasa mistis sekaligus sakral.
“Bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Pulau Sawangi, tetapi belum mendaki hingga ke Batu Dinding, berarti dia belum benar-benar mengenal pulau ini,” jelas Syarwani.
Tebing Batu Dinding berdiri kokoh di puncak Pulau Sawangi, memberikan pemandangan spektakuler ke arah laut lepas. Namun, jalur menuju ke sana tidak mudah. Perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati hutan lebat yang masih dihuni berbagai satwa liar.

Pulau Sawangi bukan hanya menyimpan kisah mistis, tetapi juga kekayaan alam yang luar biasa. Hutan di pulau ini menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa, termasuk bibi (sejenis burung hantu khas daerah), kancil, bekantan, monyet hitam, serta berbagai jenis ular.
Keasrian pulau ini tetap terjaga, meskipun sebagian kecil penduduk telah tinggal di sana selama tujuh generasi. Syarwani sendiri merupakan generasi ketujuh yang tinggal di Pulau Sawangi. Namun, seiring waktu, banyak warga yang akhirnya memilih menetap di Batulicin, terutama karena di Pulau Suwangi tidak tersedia fasilitas pendidikan dan tempat ibadah yang memadai.
“Saya tinggal di Batulicin karena pendidikan dan agama itu penting. Tapi, Pulau Suwangi tetap menjadi tanah leluhur kami,” ujar Syarwani.
Dalam perjalanan menuju Batu Dinding, Syarwani didampingi oleh tiga jurnalis dari Tanah Bumbu. Mereka menyusuri hutan dengan medan yang cukup menantang. Akar pohon yang menjalar, suara burung liar, dan jejak satwa menjadi bagian dari perjalanan ini.

Perlahan, di kejauhan, Batu Dinding mulai terlihat. Tebing itu menjulang megah, menyimpan ribuan kisah yang belum terungkap. Tidak hanya legenda mistis, tetapi juga sejarah panjang sebuah pulau yang tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Pulau Sawangi bukan hanya tentang mitos dan cerita turun-temurun, tetapi juga tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam, menjaga warisan leluhur, dan melestarikan keindahan yang telah ada sejak dahulu.
Bagi para pencari petualangan, Pulau Sawangi menawarkan lebih dari sekadar perjalanan biasa—ini adalah perjalanan menuju sejarah, alam liar, dan misteri yang masih hidup dalam ingatan masyarakatnya.[jon












