KOTABARU, GK – Program BAPILAH (Budaya Pilah dan Tanggung Jawab Sampah) yang digagas oleh Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru tidak sekedar menjadi kegiatan seremonial. Program ini dirancang sebagai langkah nyata untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah yang dihasilkan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotabaru Hj. Melinda Ratna Agustina S.STP.,M.IP saat ditemui di Kantornya, Selasa, (7/7/2026).
Melinda menjelaskan, saat in BAPILAH masih berada pada tahap sosialisasi dan pemetaan di sejumlah wilayah. Penerapan secara penuh ditargetkan mulai 1 Januari 2027 sesuai surat edaran Bupati Kotabaru.
Menurutnya, dampak program mulai terlihat. Masyarakat secara bertahap mulai memilah sampah organik di rumah untuk diolah menjadi kompos. Sementara sampah non organik diserahkan ke tempat pembuangan sementara. Dengan pola ini, tumpukan sampah di TPS.
“Sampah non organik yang terkumpul selanjutnya akan diangkut ke TPST. Di tempat itu sampah akan diolah menjadi RDF atau Refuse Derived Fuel (Bahan Bakar Turunan Sampah) dan hasilnya dapat dijual ke industri,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila sistem berjalan baik maka sampah non organik dapat memiliki nilai ekonomi. Warga bisa menyetorkannya ke bank sampah maupun ke pelaku usaha swasta sehingga memperoleh tambahan penghasilan.
“Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi masyarakat,” katanya.
Meski demikian Melinda menilai tantangan terbesar bukan pada aspek teknis, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat yang selama ini terbiasa membuang sampah tanpa dipilah.
Padahal, kebiasaan tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sampah yang bercampur dan masuk ke TPA akan menghasilkan gas metana. Gas itu berbahaya bagi kesehatan dan berpotensi memicu kebakaran.
“Kondisi seperti ini sudah termasuk bencana lingkungan yang harus kita cegah bersama” katanya.
Melinda berharap BAPILAH dapat menjadi gerakan Keberlanjutan kerana persoalan sampah akan terus ada selama aktivitas masyarakat berlangsung.
“Masyarkat hanya memiliki dua pilihan. Pertama mengurangi timbunan sampah dengan mengurangi penggunaan plastik dan menghabiskan makanan. Kedua memilah sampah sejak dari sumbernya. Tidak ada pilihan ketiga. DLH hnya menangi sampah non organik, sedangkan. Sampah organik diselesaikan dirumah masing-masing,” ujarnya.
Diakhir pernyataannya, Melinda mengajak seluruh masyarakat Kotabaru untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Mari kita kelola sampah dengan benar. Jangan menganggapnya sebagai beban karena sampah adalah hasil dari aktivitas kita sendiri. Cukup pilah dari rumah. Yang organik dikompos, yang non organik diserahkan ke DLH. Dengan cara sederhana ini kita bisa menjaga Kotabaru tetap bersih dan sehat,” pungkasnya. [Yandi]
Editor: JN












