KOTABARU, GK – Komitmen menuju sekolah berwawasan lingkungan terus digelorakan oleh SMP Negeri 1 Kotabaru. Melalui gerakan BAPILAH (Budaya Pilah dan Tanggung Jawab Sampah), pihak sekolah berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotabaru untuk membangun kesadaran kritis sekaligus mengubah perilaku pengelolaan sampah di lingkungan sekolah maupun rumah siswa.
Kepala SMPN 1 Kotabaru, Rusdiansyah, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membiasakan pemilahan sampah sesuai jenisnya.
“Selama ini pemahaman baru sebatas membuang sampah pada tempatnya, belum terbiasa memilah secara mendalam. Karena itu kami mengundang Kepala DLH agar siswa mendapat edukasi langsung dari pemangku kebijakan,” ujarnya, Kamis (13/8/26).
Gerakan ini tidak berhenti pada pemilahan semata. SMPN 1 Kotabaru berhasil mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum berbasis karya kreatif, antara lain:
– Busana Daur Ulang: Limbah plastik dikreasikan menjadi pakaian bernilai seni yang akan tampil pada peringatan HUT RI ke-81.
– Galeri Karya Siswa: Produk kerajinan dari limbah kertas, tembaga, dan kulit kerang dipamerkan dan mendapat apresiasi langsung dari DLH.
– Pengolahan Limbah Organik: Sisa makanan diolah menjadi pupuk cair dan bubuk untuk menutrisi tanaman di greenhouse (rumah hijau) sekolah.
Inovasi ini sekaligus menjadi respons cepat terhadap edaran Bupati Kabupaten Kotabaru yang menekankan tanggung jawab mandiri setiap penghasil sampah.
Untuk memastikan keberlanjutan tersebut, sekolah menetapkan langkah konkret:
1. Sidak dan Pemantauan Rutin: Kepala sekolah bersama tim mengontrol kebersihan kelas dan mengevaluasi hasilnya.
2. Lomba Kebersihan Kelas: Kompetisi kebersihan digelar hingga September untuk merangsang partisipasi siswa.
3. Kampanye Edukatif: OSIS dan guru aktif mengampanyekan pentingnya memilah sampah.
Meski volume sampah sekolah mulai menurun signifikan, tantangan terbesar tetap ada di rumah tangga.
“Di sekolah kami bisa mengontrol melalui fasilitas dan sistem, tapi kunci utamanya adalah pembiasaan diri. Harapan kami, edukasi ini tidak hanya berdampak di sekolah, tetapi juga menular ke keluarga dan masyarakat Kotabaru,” tutup Rusdiansyah penuh optimisme.
Yandiu












